Rabu, 16 Juni 2021

MANAJEMEN KELAS

 Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : PAI 4C

Mata Kuliah : Magang 1


Manajemen merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Karena terbawa oleh derasnya arus penambahan kata kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.

Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris management dengan kata kerja tomanage yang berarti mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina atau memimpin. Kata benda management dan manage berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Manajemen memiliki arti pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).

Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan kelas merupakan suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, di dalam kelas tersebut guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas. Kelas dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama.

Manajemen kelas bertujuan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif, agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan kondusif. Dengan begitu, jika peserta didik sudah merasakan kenyamanan dalam belajar, maka tujuan pembelajaran yang ingin disampaikan guru akan mudah untuk tercapai, dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebagai pelaksana pembelajaran memiliki peran untuk mampu mewujudkan kelas yang kondusif untuk proses pembelajaran. Kelas merupakan lingkungan belajar atau kelompok belajar, dimana peserta didik dapat berinteraksi dengan sesama teman, guru dan lingkungan belajar, dimana orang-orang di dalamnya dapat mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Peserta didik akan mengalami kesulitan apabila lingkungan tempat pembelajaran tidak mendukung (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).

Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja Efendi dan Delita Gustrianai, tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut:

1) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

2) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.

3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek siswa dalam belajar.

4) Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.

Manajemen kelas bertujuan untuk meningkatkan efektifitas serta memaksimalkan waktu belajar demi pencapaian tujuan pembelajaran yang kondusif. Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Dalam proses pengelolaan kelas, keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh sebab itu guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapainya dengan kegiatan pengelolaan atau manajemen kelas yang dilakukan.

Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah penyelenggaraan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.Sebelum kita membahas tentang manajemen kelas, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian dari pada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang bersamaan menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama ,jadi guru dan pelajara yang sama . Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan menjadi dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan kedua pandangan dari segi siswa.

Fungsi manajemen adalah sebagai wahana bagi perserta didik untuk mengembangkan diri sebaik mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya. Agar fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa fungsi manajemen kelas, yaitu:

1. Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu.

2. Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.

3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.

4. Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid, dan mendorong motivasi belajar.

5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikulum yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu.

6. Murid-murid akan menghormati guru yang dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapan-harapan mereka.

7. Memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.

8. Membantu guru memiliki perasaan percaya pada diri sendiri dan menjamin atas diri sendiri.

9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang terbaru kepada murid.

Prosedur manajemen kelas dapat dilakukan secara pencegahan (Preventif) maupun penyembuhan (Kuratif). Dikatakan secara preventif adalah jika upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk mengatur siswa, fasilitas yang berupa peralatan atau format belajar mengajar yang tepat dan dapat mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen kelas secara kuratif adalah langkah atau tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu kondisi-kondisi optimal dan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.

1. Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Preventif Meliputi:

a) Peningkatan kesadaran pendidik sebagai guru, seorang pendidik harus menyadari bahwa dirinya memiliki tugas dan fungsi yaitu sebagai fasilitator bagi siswanya yang sedang belajar, serta bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan.

b) Peningkatan kesadaran siswa kesadaran akan kewajibannya dalam proses pendidikan. Keefektifan siswa dalam proses pembelajaran sebenarnya bergantung pada tingkat kesadarannya semakin tinggi pula keefektifannya.

c) Penampilan sikap tulus guru, seorang guru perlu bersikap dan bertindak secara wajar, tulus dan tidak pura-pura terhadap siswa.

d) Pengenalan terhadap tingkah laku siswa, tingkah laku siswa bisa bersifat perseorangan maupun kelompok.

e) Penemuan alternatif manajemen kelas, agar pemilihan alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas.

f)       Pembuatan kontrak sosial, pada dasarnya berupa norma yang dituliskan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak sosial yang baik adalah yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga meminimalkan terjadinya pelanggaran.

2. Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Kuratif meliputi:

a) Identiffikasi masalah, yang pertama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas.

b) Analisis masalah, dari hasil penyelidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab timbulnya tingkah laku siswa yang menyimpang tersebut. Dengan begitu, maka akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya.

c) Penetapan alternatif pemecahan, sebelum menetapkan alternatif tersebut, alangkah lebih baik untuk mengetahui berbagai pendekatan yang sesuai untuk digunakan dalam Manajemen Kelas serta memahami cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.

d) Monitoring, hal ini dilakukan karena akibat dari perlakuan guru bisa saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi tidak menutup kemungkinan juga perlakuan guru tidak berakibat apa-apa terhadap siswa, atau bahkan malah akan menimbulkan tingkah laku yang justru lebih jauh menyimpangnya.

e) Memanfaatkan umpan balik, hasil dari monitoring seharusnya dapat dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan jika suatu saat menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.

Selasa, 01 Juni 2021

MANAJEMEN SEKOLAH

 Manajemen yaitu sebuah seni yang mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi atau bisnis melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan, dan pengawasan sumber daya dengan cara yang efektif dan efisien. Sebagaimana yang telah dikutip oleh Stoner tentang Manajemen secara umum yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Sedangkan sekolah yaitu lembaga yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan belajar-mengajar bagi para pendidik dan peserta didik dalam memberi dan menerima pelajaran sesuai dengan bidangnya. Sekolah juga bertujuan menjadi tempat bagi anak-anak untuk di didik agar bisa menjadi individu yang berguna bagi bangsa dan negara, karena itu sekolah menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam bangsa.

Manajemen sekolah merupakan faktor yang sangat penting dalam menyelenggarakan pendidikan dan oengajaran disekolah, keberhasilannya diukur dari prestasi yang diperoleh, karena itu dalam melaksanakan kepemimpinannya sekolah harus menggunakan suatu sistem, yang artinya dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah terdapat komponen-komponen berkaitan seperti guru, staf TU, orang tua murid, masyarakat, pemerintah, peserta didik, dan lain sebagainya harus berfungsi secara optimal yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja pimpinan. Keberhasilan kualitas pendidikan juga sangat ditentukan oleh kemampuan pengelolaan dalam mengelola organisasi (sekolah), seperti mengelola pembelajaran, siswa, sarana dan prasarana, keuangan, serta hubungan dengan masyarakat. 

Manajemen sekolah yaitu Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal, serta upaya pemberdayaan sekolah dan lingkungannya untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui optimalisasi peran dan fungsi sekolah sesuai dengan visi dan misi, dimana pengelolaan sekolah diberikan Kepada kepala sekolah, serta atas kesiapan seluruh staf sekolah, untuk memanfaatkan semua sumber dan fasilitas belajar yang ada untuk menyelenggarakan pendidikan bagi siswa serta memiliki akuntabilitas atas segala tindakan tersebut” Sebagaimana telah dikutip Menurut James Jr. manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif.

Manajemen sekolah sering kali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan hal itu, terdapat tiga pandangan yang berbeda. Pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). Kedua, manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen). Ketiga, anggapan bahwa manajemen identik dengan administrasi. 

Manajemen sama dengan pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendaya gunakan sumber-sumber baik itu personal maupun material, secara efektif serta efisien berguna menunjang tercapainya tujuan pendidikan disekolah secara optimal.

Terdapat beberapa langkah pelaksanaan manajemen peningkatan mutu sekolah. Sagala (2011:55-56) menjelaskan bahwa setiap sekolah melaksanakan manajemen peningkatan mutu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Merumuskan visi, misi, tujuan dan target peningkatan mutu secara berkelanjutan; 

b. Menyusun perencanaan sekolah mengunakan model perencanaan strategik;

c. Melaksanakan program sekolah sesuai formulasi perencanaan; 

d. Melakukan evaluasi secara terus menerus terhadap program kerja yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas serta kualitas penyelenggaraan program sekolah; 

e. Menyusun laporan kemajuan sekolah dan melaporkannya kepada orang tua siswa kemajuan hasil belajar anak-anaknya disekolah, melaporkan kemajuan sekolah kepada masyarakat dan stakeholders sekolah serta pemerintah daerah;

f. Merumuskan program baru sebagai hasil evaluasi program sekolah dan kelanjutan daei program yang telah dilaksanakan menggunakan perencanaan stategik sekolah. 

Langkah yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan manajemen untuk meningkatkan mutu harus melalui tahapan-tahapan. Tahapan manajemen pun dimulai dari proses merumuskan rencana dan tujuan, penggunaan strategi yang tepat, pelaksanaan dan pelaporan serta ditutup dengan menentukan langkah baru ubtuk meningkatkan mutu yang lebih baik. Langkah ini sangatlah penting untuk mengukur pencapaian tujuan dan kualitas sekolah.

Adapun tujuan Manajemen Sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah : 

1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 

2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. 

3) Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolah. 

4) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai

Jadi, manajemen sekolah memiliki tujuan untuk meningkatkan sumber daya yang ada disekolah baik itu efesiensi, mutu pendidikan, relevansi, pemerataan, serta meningkatkan bagaimana tanggung jawab dari sekolah dan meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah agar semakin baik kedepannya.

Adapun prinsip-prinsip Manajamen Sekolah dibagi menjadi 4 yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia. 

1. Prinsip Ekuifinalitas ialah didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan bersama.

2. Prinsip Desentralisasi (Principle of Decentralization) ialah bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. 

3. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri ialah Ketika sekolah menghadapi permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah

4. Prinsip Inisiatif Manusia ialah peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya. Prinsip ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis (berubah-ubah)

Adapun juga Fungsi guna manajemen adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan: (1) pemilihan ataupun penetapan tujuan organisasi, serta (2) penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, tata cara, sistem, anggaran, serta standard yang diperlukan buat menggapai standard.

2. Pengorganisasian: (1) penentuan sumberdaya serta aktivitas yang diperlukan buat menggapai tujuan, (2) perancangan serta pengembangan organisasi ataupun kelompok kerja buat menggapai tujuan, (3) penugasan tanggungjawab, serta (4) pendelegasian wewenang kepada individu.

3. Penataan personalia: penarikan, pelatihan, pengembangan, penempatan, serta pemberian orientasi para karyawan dalam area kerja yang menguntungkan serta produktif.

4. Pengarahan: memperoleh ataupun membuat para karyawan melaksanakan apa yang di idamkan serta wajib mereka jalani. Guna ini memohon para karyawan buat bergerak mengarah tercapainya tujuan organisasi.

5. Pengawasan: temuan serta pelaksanaan metode serta perlengkapan buat menjamin kalau rencana sudah dilaksanakan cocok dengan yang sudah diresmikan. Pengawasan positif berupaya mengenali apakah tujuan organisasi dicapai dengan efisien serta efektif ataupun tidak. Pengawasan negatif berupaya menjamin aktivitas yang tidak di idamkan tidak terjalin.

Sedangkan sebagaimana menurut Fayol (1925), tentang guna manajemen ialah merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, serta mengatur. Tetapi dikala ini, kelima guna tersebut sudah diringkas jadi 3 ialah:

1. Perencanaan (planning) merupakan memikirkan apa yang hendak dikerjakan dengan sumber yang dipunyai. Perencanaan dicoba buat memastikan tujuan industri secara totalitas serta metode terbaik buat penuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi bermacam rencana alternatif saat sebelum mengambil aksi serta setelah itu memandang apakah rencana yang diseleksi sesuai serta bisa digunakan buat penuhi tujuan industri. Perencanaan ialah proses terutama dari seluruh guna manajemen sebab tanpa perencanaan, fungsi- fungsi yang lain tidak bisa berjalan.

2. Pengorganisasian (organizing) dicoba dengan tujuan membagi sesuatu aktivitas besar jadi kegiatan- kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian memudahkan manajer dalam melaksanakan pengawasan serta memastikan orang yang diperlukan buat melakukan tugas yang sudah dibagi- bagi tersebut. Pengorganisasian bisa dicoba dengan metode memastikan tugas apa yang wajib dikerjakan, siapa yang wajib mengerjakannya, gimana tugas- tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, serta pada tingkatan mana keputusan wajib diambil.

3. Pengarahan (directing) merupakan sesuatu aksi buat mengusahakan supaya seluruh anggota kelompok berupaya buat menggapai target cocok dengan perencanaan manajerial serta usaha.


Selasa, 25 Mei 2021

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia
NIM    : 11901131
Kelas  : PAI/4C
Makul : Magang 1


Karakteristik ialah karakter atau gaya hidup secara umum yang telah dibawa sejak lahir dan dari lingkungan sekitar yang menjadikannya karakter yang relatif tetap dalam individu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Piuas Partanto, Dahlan (1994) bahwa Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap.

Peserta didik merupakan individu yang selalu mengalami perkembangan, jadi peserta didik akan terus mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan pengalaman, pembelajaran yang ada pada dirinya. Perubahan dalam diri peserta didik ialah untuk pengembangan dirinya sendiri dan juga ada untuk beradaptasi atau berinteraksi dilingkungan sekitarnya. Peserta didik juga disebut sebagai insan yang menarik, karena memiliki fisik dan psikis yang unik, dari berbagai potensi yang telah dimiliki oleh peserta didik maka guru masih harus memahami kemampuan peserta didik untuk mencapai kebutuhan untuk dalam perkembangannya yang sangat optimal.

Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik peserta didik ialah aspek atau kualitas seorang peserta didik dari berbagai aspek yang ada dalam diri peserta didik yang dapat menahan dengan penataan pembelajaran yang meliputi kemampuan dari peserta didik, motivasi dalam pembelajaran, minat dalam mata pelajaran, pengalaman dari peserta didik, kemampuan sosial, kemampuan psikomotorik, keterampilan serta kemampuan dalam bekerja sama sehingga peserta didik dapat mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran.
Seorang ilmuan pembelajaran yang menggambarkan bahwa intraksi peserta didik merupakan komponen yang terpenting dalam pengembangan strategi pembelajaran.

Secara umum para peserta didik yang sebagai karakter individu ini dapat dikatakan oleh beberapa faktor usia, latar belakang, dan keturunan. Faktor-faktor tersebut telah di bawa oleh peserta didik lahir, tapi faktor tersebut juga didasarkan pada keadaaan dari lingkungan social yang menjadi titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembelajaran dijadikan sebagai acuan pada saat mengoptimalkan proses pembelajaran, sehingga teori tersebut dapat dikatakan sebagai teori komprehensif.
Karakter adalah suatu gaya hidup seseorang atau nilai yang berkembang secara teratur setiap hari mengacu pada tingkah laku yang mengarah pada kepribadian yang lebih konsisten dan mudan diimplrmentasikan. Domana faktor dapat diartikan sebagai ciri yang lebih ditonjolkan dalam berbagai aspek tingkah laku. [Daryanto& Rachmawati, 2015: 15]

Peserta didik merupakan orang yang mendapat pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang melaksanakan Pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses petumbuhan dan perkembangan baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Namun peserta didik disebuut sebagai insan yang menarik, karena memiliki pisik dan psikis yang unuik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik masih memerlukan kebutuhan untuk mencapai kebutuhan intuk perkembangan yang sangat optimal.
Karakter peserta didik dapat didefenisikan sebagai aspek atau kualitas seseorang. Berbagai aspek yang ada dalam diri peserta didik dapat menahan dengan penataan pembelajaran. 

Secara umum peserta didik yang sebagai karakter individu ini dapat dikatakan oleh beberapa faktor-faktor usia, latar belakang, dan keturunan. Faktor-faktor tersebut telah dibawa oleh peserta didik dari lahir. Tetapi faktor tersebut juga didasarkan pada keadaan lingkungan social yang menjadii titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembembelajaran dijadikan sebagai acuan pada saat mengoptimalkan proses pembelajaran . sehungga teori tersebut dapat dikatakan sebagai teori kompherensif.

Thomas Lickona (1992:12-22) memberi pengertian karakter sebagai sifat yang pasti dimiliki sseseorang dalam memberi respon terhadap sesuatu yang dilihatyang dilakukan dalam tindakan nyata dengan perilaku yang baik.
N. A. Aeni, 2014, p. 50). Menyatakan bahwa Nilai-nilai karakter peserta didik menjadi nilai yang sangat penting dari sistem pendidikan. Adapun karakter (character) berasal dari bahasa Yuanani yaitu “charassian” yang berarti menandai dan memfokuskan bagaimana meimplementasikan nilai kebaikan dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku, sehingga jika orang itu memiliki sifat buruk seperti serakah suka bohong, seorang koruptor, mudah marah, sesuka hati dan berperilaku jelek lainnya, maka dapat dinyatakan bahwa orang tersebut memiliki karakter yang buruk. Namun sebaliknya, jika orang tersebut berperilaku baik atau sesuai dengan norma dan kaidah moral maka disebut dapat dikatakan orang yang berkarakter.

Sementara itu Imam al-Ghazali memberi definisi karakter sebagai akhlak, yakni sesuatu yang terjadi secara spontan. Seorang manusia dalam berkata-kata dan bersikap, atau melakukan hal yang telah menjadi kesatuan di dalam dirinya sehingga ketika muncul secara spontan dan tidak perlu dipikirkan lagi atau direcanakan lagi. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali memberi penegasan bahwa tujuan yang paling penting dari pendidikan itu adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan semua yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi segala yang menjadi larangan-Nya (A. N. Aeni, 2014, p. 53).

Karakter tidak mungkin terbentuk secara secara cepat, melainkan harus dilatih
Dengan serius dan distimulasi secara terus-menerus setiap harinya melalui kegiatan pembiasaan. Dengan
pembiasaan baik yang diberikan diharapkan akan dapat membentuk manusia yang
baik pula. Diantara Pembiasaan-pembiasaan untuk melakukan hal-hal yang baik seperti berkata-kata yang jujur,
tidak suka bermalas-malasan-, malu melakukan kecurangan, tidak mudah pesimis,
selalu bekerja keras harus tertanam. Disinilah peran penting bagi orang tua
dalam menstimulasi perkembangan tersebut. Oleh karena itu pendidikan itu sangat penting demi membentuk karakter peserta didik agar memiliki akhlak terpuji, dan manjadi seorang pendidik juga harus peka dalam hak ini, karena ini masih menjadi tanggung jawabnya.

Beberapa karakteristik milenial: 
Pertama, bagi milenial, komputer itu normal. Kedua, keberadaan identitas diri sudah tidak nyata lagi. Ketiga, mengutamakan hasil daripada teori. Keempat, proses pembelajaran mirip dengan permainan yang menggunakan trial and error. Kelima, kaum milenial akan merasa sangat nyaman jika menjalankan berbagai tugas. Keenam, generasi milenial adalah orang yang anti prokrastinasi (Suissa, 2015). Kompleksitas pengaksesan informasi melalui teknologi memerlukan respon proaktif untuk meminimalisir penurunan nilai fitur sosial. Karena jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan masalah yang cukup serius, seperti kasus kriminal, pelecehan seksual, kasus penganiayaan siswa terhadap guru, anak bertengkar dengan orang lain.

Karakter penting yang perlu diahami dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi karakter fisik dan non fisik peserta didik di kelas. Pertumbuhan mengarah pada fisik sedangkan perkembangan mengarah pada fungsi-fungsi organ dan non fisik, karakteristik fisik merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti keadaan kaki, mata, tangan dan sebagainya.
2. Mengidentifikasi karaktistik belajar setiap peserta didik di kelasnya. Hal ini masih bersangkutan dengan beberapa hal seperti bakat, minat, lingkungan anak, gaya belajar, intlegensia anak, dan lainnya.
3. Memastikan peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegitan belajar mengajar.
4. Mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik, dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda.
5. Mencoba untuk mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya.
6. Membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan dan keterlambatan pemahaman peserta didik, sehingga seluruh peserta didik diusahakan dapat memahami materi yang disampaikan pendidik.
7. Mempelajari peserta didik yang memiliki kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga peserta didik tersebut tidak merasa tersisihkan.

Dalam menguasai karakteristik peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kondisi peserta didik. Peserta didik dalam dunia pendidikan modern merupakan subjek dalam proses pembelajaran yang terjadi di sekolah, sehingga peserta didik dibimbing agar dapat menjadi generasi yang baik dan dapat berkontribusi untuk memajukan bangsa ini. Peserta didik tidak disebut sebagai objek karena mereka memerlukan perhatian dan partisipasi dalam pembelajaran, peserta didik juga memiliki karakteristik tersendiri dalam tiap diri individu.

*Manfaat Memahami Karakter Peserta Didik
Memahami karakteristik peserta didik memiliki banyak manfaat yang akan diperoleh oleh guru maupun peserta didik, jika saling mengenal karakter masing-masing. Peserta didik akan merasa mendapatkan perlakuan yang adil, tidak ada diskriminasi, merasakan bimbingan yang maksimal dan dapat mengelaikan masalah peserta didik dengan memperhatikan karakternya. (meriyati :2015)
Begitu pentingnya mengenal dan memahami karakter peserta didik maka seorang pendidik maka seorang guru harus meluangkan waktunya bersama peserta didik dan memberikan perhatian dengan maksimal kepada peserta didik sehingga dapat membimbing mereka pada mencapai tujuan pendidikan.
a). Dapat mengetahui kelebihan yang mereka miliki dan dapat meningkatkan kelebihan yang dimiliki peserta didik.
b). Mendeteksi kelemahan yang mereka miliki dan memperbaikinya.
c). Mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri mereka dan memaksimalkan / mengembangkan potensi tersebut untuk kesuksesan dimasa yang akan datang.
d). Menyadarkan mereka bahwa masih memiliki banyak kekuarangan yang ada dlaam diri sendiri sehingga pantang untuk bersikap sombong dan merendahkan orang lain, karena merasa dirinya memiliki kelebihan.
e). Mengetahui jenis pekerjaan apa yang paling cocok untuk mereka dimana yang akan dating sesuai dengan kepribadian dan karakter mereka sehingga kita dapat mengarahkan peserta didik untuk menjadi lebih baik lagi.
f). Mengenal diri sendiri dapat membantu anak didik untuk berkompromi dengan diri sendiri dan orang lain dalam berbagai situasi yang tentu akan bermanfaat bagi kehidupan kesehariannya, terutama untuk lebih bersosialisasi.
g). Mengenal kepribadian (personality) diri dapat membantu mereka menerima dengan lapang dada segala kelebihan dan kekurangan dalam diri sendiri, sekaligus bertoleransi terhadap kelebihan dan kelemahan yang dimilki oleh orang lain.

Selasa, 20 April 2021

Kultur Sekolah

Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131


Deal & Peterson (2011) mengemukakan bahwa, Budaya sekolah yaitu merupakan himpunan dari norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Dalam hal untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan suatu masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi segala kegagalan. Setiap sekolah memiliki beberapa seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf tersebut . Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan yang berurusan dengan budaya dimana bekerja.

Menurut Peterson (2002), suatu budaya dalam sekolah mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu dalam memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa tersebut.

Dalam buku "Pendidikan Islam Mengupas Aspek-aspek Dalam Dunia Pendidikan Islam", yaitu jika dilihat dan ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan ada 3 aspek kultur yang mempengaruhi suatu kultur sekolah sebagai berikut :

1. Kultur sekolah yang positif adalah suatu kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya  yaitu kerja sama dalam mencapai suatu prestasi, penghargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar.

2. Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resistensi terhadap perubahan, misalnya siswa yang takut salah, takut bertanya, dan siswa yang jarang berkerja sama dalam memecahkan masalah.

3. Kultur sekolah yang netral adalah yaitu suatu yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Seperti contohnya yaitu arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lainnya. Budaya terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan.

Kultur mencakup berbagai cara berfikir , perilaku, sikap, nilai yang mencerminkan kebaikan dalam wujud fisik maupun abstrak yang diakui oleh suatu kelompok masyarakat. Oleh sebab itu, kultur akan diwariskan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya. Lembaga utama yang didesain untuk memperlancar transmisi kultural antar generasi yaitu sekolah (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Efianiningrum (2007: 52) bahwa kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Jadi, kultur yang ada dimasyarakat tersebut secara alami diwariskan oleh generasi yang ada sekarang kepada generasi yang akan datang. Kultur juga dapat diartikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dimasyarakat, baik itu mencakup sikap, cara berprilaku terhadap orang lain, maupun cara berfikir serta nilai yang baik dalam wujud fisik maupun non-fisik.

Kultur sekolah dalam lingkungan pendidikan sangat berpengaruh oleh kepemimpinan kepala sekolah, karena kualitas atau pandangan dari sekolah tersebut sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, guru, serta peserta didik yang ada disekolah, karena jika sekolah tersebut memiliki budaya displin yang baik serta memiliki prilaku yang baik, maka sekolah tersebut berhasil menjalankan visi misinya untuk mendapatkan lulusan yang baik. Tetapi, jika sekolah tersebut tidak mematuhi aturan, dan hanya tidak menjalankan kultur sekolah dengan baik, maka akan berpengaruh buruk untuk pandangan sekolah tersebut.

Oleh karena itu, kultur sekolah dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai pandangan masyarakat ke sekolah tersebut, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral.

Kultur sekolah juga diharapkan dapat merubah mutu pendidikan yang ada disekolah untuk menjaid yang lebih baik lagi, dan mempunyai ciri ciri sebagai berikut sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Kultur sekolah yang baik dapat menjadikan wadah sehingga dapat memberikan sebuah peluang yang mana agar warga sekolah dan sekolah dapat berfungsi secara optimal sehingga dapat, kultur yang direkomendasikan oleh depdiknas adalah kultur yang berkaotan dengan prestasi/kualitas dan kultur yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

Kultur sekolah memiliki peran membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan terlaksananya proses pembelajaran siswa. Kultur sekolah ini meliputi faktor material dan non-material. Faktanya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tidak terlihat. Karenanya, menekankan suatu perbaikan pendidikan yang ada di sekolah pada proses restrukturisasi semata itu, tidak cukup . Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural dapat dilakukan secara seimbang.

Kultur sekolah memiliki peranan dalam menghasilkan produktivitas kerja yang baik pada setiap individu dan unit kerja sekolah. Kultur sekolah dalam lingkungan pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Kepsek (Kepala Sekolah). Contohnya, kepuasan dan ketidakpuasan bawahan dalam bekerja yang berhubungan dengan pola kepemimpinan. Dilaporkan oleh Farrow, Valensi, dan Basa (dalam Mahtja, 1991) dalam jurnal (Roemintoyo, 2013) yang menyatakan bahwa keberadaan Kepala Sekolah dengan pola perilaku serta modal kepemimpinannya sangat mempengaruhi kultur sekolah yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Oleh karenanya, sekolah sebagai suatu institusi pendidikan perlu membangun hubungan yang kompak antar warga sekolah dengan cara yang positif untuk memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan.

Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pada pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku itu sendiri dan bahkan mengubah asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah ini dapat menghadirkan konflik atau masalah dan jika hal ini diatasi dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif. Sekolah perlu menyadari hal ini secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada, seperti halnya kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7). 

 Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat 20 merubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.

Rabu, 14 April 2021

MEDIA PEMBELAJARAN

Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : PAI 4C


Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Heinich dkk (1982) mengemukakan istilah me-dium ini sebagai perantara yang akan mengantarkan informasi antara sumber pesan dan penerima pesan. Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya itu adalah sebagai media komunikasi. Apabila media tersebut membawa informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud pengajaran maka media tersebut disebut media pengajaran.

Media adalah sebagai alat untuk menyampaikan pesan atau informasi belajar dari dari sumber pesan kepada penerima pesan. penggunaan media pembelajaran inilah dapat membantumu dalam keberhasilan belajar. Seperti yang ditegaskan oleh Danim dan Sudarwan (1995:1) bahwa hasil dari penelitian ini sudah banyak sekali membuktikan efektivitas penggunaan media dalam proses belajar mengajar dikelas tersebut, apalagi terutama dalam meningkatkan prestasi siswa. Terbatasnya media dalam proses belajar mengajar ini merupakan salah satu penyebab lemahnya mutu belajar siswa. 

Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan dalam proses belajar mengajar dikelas. Hal ini dapat dilihat dan dipahami pada proses belajar yang dialami siswa bertumpu pada berbagai kegiatan yang menambah ilmu dan wawasan untuk bekal hidupnya di masa sekarang dan yang akan datang. Seperti yang dikemukakan oleh Rusyan dan Daryani (1993:3) bahwa salah satu upaya yang harus ditempuh yaitu bagaimana caranya kite menciptakan situasi belajar yang memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar dari pada diri siswa tersebut dengan menggunakan segala sumber belajar dan cara belajar yang lebih efektif dan efisien. Jadi dalam hal ini, media pengajaran merupakan salah satu media yang dapat membantu keefektifan terjadinya proses belajar.

Dalam proses pembelajaran ini, media pengajaran merupakan wadah dan perantara dalam penyaluran pesan dari sumber pesan yaitu seperti guru kepada penerima pesan yaitu siswa (peserta didik). Dilihat dari manfaat nya, seperti yang disebutkan oleh Danim dan Sudarwan (1995:13) manfaat dari media pengajaran terdapat dalam beberapa point yaitu sebagai berikut : (a) meningkatkan mutu pendidikan dilakukan dengan cara kecepatan dalam belajar, (b) memberi kemungkinan pendidikan yang bersifat lebih individual, (c) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, (d) pengajaran yang dapat dilakukan secara baik dan mantap, (e) meningkatkan terwujudnya kedekatan dalam belajar, dan (f) memberikan penyajian pendidikan yang lebih luas.

Sebagai contoh, sederhananya saja seperti pesawat televisi yang tidak mengandung atau tidak adanya pesan (bahan ajar) berarti belum bisa dikatakan media pembelajaran, hal ini baru bisa dikatakan hanya peralatan (hardware) saja. Akan tetapi, agar dapat disebut sebagai media pembelajaran maka pesawat televisi tersebut harus memiliki informasi, pesan atau bahan ajar yang dapat disampaikan ke penerima pesan itu. Ada pengecualian nya yaitu apabila kita, misalnya menggunakan pesawat televisi sebagai alat peraga untuk menerangkan tentang komponen-komponen yang ada pada pesawat televisi dan juga cara kerjanya. Maka pesawat televisi yang kita gunakan itulah dapat berfungsi sebagai media pembelajaran.

Terkait dengan semakin banyak dan beragamnya media pengajaran, Raharjo (1986:62) mengatakan dalam pemilihan media harusnya memperhatikan beberapa prinsip yaitu sebagai berikut; (a) Kejelasan dalam maksud dan tujuan pemilihan media tersebut, untuk keperluan hiburan, informasi umum, pembelajaran dan sebagainya, (b) Familiaritas media, yaitu yang melibatkan pengetahuan akan sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih, dan (c) Sejumlah media yang dapat diperbandingkan karena adanya beberapa pilihan yang lebih sesuai dengan tujuan pengajaran tersebut.

Banyak dari penelitian yang diadakan mengenai media pembelajaran mana yang paling sesuai untuk tujuan tertentu, dan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa; 1) Tidak setiap media pengajaran dapat dimanfaatkan untuk hal hal yang tidak sesuai atau sembarangan mencapai pengajaran, 2) Semua media pengajaran ini dapat membantu guru dalam hal melaksanakan satu atau beberapa fungsi dalam pengajaran, yaitu seperti mengisahkan, mengontrol/mengecek, memberikan penguatan dan mengadakan evaluasi. Bahkan bisa jadi ada kemungkinan, media itu mengambil alih fungsi, misalnya film yang mengisahkan proses pertumbuhan sel.

Seperti yang dikemukakan oleh Winkel (2005:321) bahwa pemilihan media disamping untuk melihat kesesuiannya dengan tujuan intruksional khusus, materi pelajaran, prosedur didaktis dan bentuk pengelompokan siswa, juga harus mempertimbangkan soal biaya, ketersediaannya peralatan waktu yang dibutuhkan, ketersediaannya aliran listrik, kualitas teknis, ruang kelas, dan kemampuan guru dalam menggunakan media secara tepat.

Implementasi pemilihan media yang berdasarkan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan merupakan hal terpenting yang harus dilakukan oleh guru atau pendidik. Realitas empirik menunjukan bahwa masih banyak guru atau pendidik yang mengajar dengan hanya mengandalkan pada dirinya sebagai satu-satunya media atau sumber belajar saja, selain itu di beberapa daerah-daerah terpencil dan tertinggal bisa kita lihat bahwa penggunaan media hanya mengandalkan papan tulis black board sebagai media pembelajaran satu-satunya itu. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila guru atau pendidik memiliki kemampuan mengenai langkah-langkah dalam pemilihan media berdasarkan kriteria atau ketentuan yang telah di sebutkan, juga adanya perhatian pimpinan terkait dengan pentingnya peningkatan kualitas dan mutu pendidikan, lebih khusus efektifitas pembelajaran melalui penggunaan media. Karena dengan memperhatikan kriteria tersebut, maka tidak ada satu media pun, atau belum tentu media yang tersedia tersebut cocok untuk semua bahan pembelajaran itu, atau pun sesuai dengan sasaran tujuan yang akan dicapai. Apabila guru tidak melakukan langkah-langkah perencanaan dan pemilihan media menunjukan pada sebuah indikasi kurangnya inovasi dan pengembangan media pembelajaran yang akan digunakan. Sehingga guru hanya terfokus  pada satu media saja.

Saat ini masih banyak guru-guru yang enggan untuk memanfaatkan media untuk kegiatan pembelajaran. Masih banyak juga kecenderungan bahwa para peserta didik dibiasakan untuk mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru, kemudian dicatat dan dipaksa untuk menghafalkannya. Keadaan seperti inilah yang jelas akan menghasilkan sikap verbalistik, yang akan menyebabkan peserta didik akan menjadi pasif dalam kegiatan belajar mengajar dan itulah yang membuat proses belajar mengajar menjadi kaku dan cepat membosankan. Untuk itu, dalam rangka mengembangkan pembelajaran menjadi menyenangkan serta membuat peserta didik menjadi aktif kembali, penggunaan multimedia pembelajaran akan sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran.

Pentingnya fungsi multimedia didalam kegiatan pembelajaran yaitu pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat visual atau alat peraga saja dalam proses kegiatan belajar mengajar, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada peserta didik, guna untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak, dan mempertinggi daya serap peserta didik tersebut.

Dengan konsep yang semakin mantap, fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar peraga bagi guru yaitu melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik itu sendiri. Dengan demikian pola interaksi edukatif akan lebih bervariasi hingga meliputi 5 pola sebagai berikut yaitu : 1). Sumber yang hanya berupa orang saja (seperti yang kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah kita sekarang), 2). Sumber yang berupa orang yang dibantu oleh atau dengan sumber lain, 3). Sumber berupa orang bersama dengan sumber lain berdasarkan pembagian tanggung jawabnya, 4). Sumber lain tanpa ada sumber berupa orang, dan 5). Kombinasi dari keempat pola tersebut dalam bentuk suatu sistem. 

Ada bermacam-macam pendapat tentang fungsi media pembelajaran. Peranan media dalam proses kegiatan belajar mengajar merupakan bagian yang sangat menentukan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Rowntree yaitu bahwa ada enam fungsi media yaitu, 1) membangkitkan motivasi belajar peserta didik, 2) mengulang apa yang telah dipelajari, 3) menyediakan segala stimulus belajar, 4) mengaktifkan respon peserta didik dalam proses belajar mengajar, 5) memberikan umpan balik dengan segera terhadap peserta didik, dan 6) menggalakkan latihan yang serasi.

Dalam konteks pembelajaran yang berlangsung, media juga berfungsi secara efektif tanpa menuntut kehadiran guru. Media juga sering dalam bentuk "kemasan" untuk mencapai tujuan pembelajaran itu. Dalam hal inilah, tujuan telah ditetapkan, petunjuk atau pedoman kerja untuk mencapai segala tujuan yang telah diberikan, bahan-bahan atau material yang telah disusun dengan rapi, dan alat ukur atau evaluasi juga disertakan. Media pembelajaran yang mempunyai syarat situasi seperti itulah dapat berupa modul, paket belajar, kaset dan perangkat lunak komputer yang akan dipakai oleh peserta didik atau peserta pelatihan. Dalam situasi seperti ini, guru atau instruktur dapat berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran.

Media juga memiliki berbagai peranan yang penting dalam aktivitas pembelajaran. Selama ini, pembelajaran mungkin lebih banyak bergantung pada keberadaan guru atau pendidik. Dalam situasi dan kondisi demikian, media tidak banyak digunakan oleh guru atau pendidik atau apabila yang digunakan media hanya sebatas alat bantu pembelajaran.

Pandangan seperti inilah yang mengisyaratkan tidak adanya upaya pemberdayaan dalam proses pembelajaran. Sebaliknya juga bisa saja pembelajaran mungkin tidak memerlukan kehadiran guru. Pembelajaran yang tidak bergantung pada guru, bahkan selalu diarahkan oleh siapa yang merancang media tersebut. Dalam situasi pembelajaran yang berbasis pada guru atau pendidik, penggunaan media pembelajaran secara umum adalah untuk memberikan dukungan suplementer secara langsung kepada guru atau pendidik. Media pembelajaran yang dirancang secara memadai ini dapat meningkatkan dan memajukan proses belajar dan memberikan dukungan pada pembelajaran yang berbasis guru atau pendidik dan tingkat keefektifan media pembelajaran tergantung pada guru atau pendidik itu sendiri.

Media dalam dunia pendidikan pada umumnya dan pembelajaran cara khusus ini telah memberikan kontribusi atau sumbangan besar dalam rangka menyediakan dalam melaksanakan segala pemecahan masalah guna untuk memberi kemungkinan belajar. Pemecahan masalah belajar yang ditawarkan ini yaitu berupa penyediaan sumber belajar, baik itu sengaja dirancang maupun yang dipilih dan dimanfaatkan. Media pembelajaran ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap beberapa struktur organisasi kelembagaan pendidikan baik pada tingkat makro maupun mikro 

Dampak ini dapat dirasakan dalam tiga hal yaiti; 1) mengubah dalam pengambilan keputusan, 2) menciptakan pola pembelajaran yang baru, dan 3) memungkinkan adanya bentuk alternatif baru dalam kelembagaan pendidikan tersebut.


Rabu, 27 November 2019

Pengalaman Bahasa

Assalamu’alaikum teman-teman,
Disini aku akan berbagi cerita dari pengalamanku, yaitu pengalaman Bahasa yang berbeda makna. Aku ini mempunyai banyak teman dari berbagai daerah. Nah salah satu nya itu teman aku yang berasal dari daerah Sambas. Waktu tidak sengaja kami bertemu disuatu tempat, setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Pada saat bertemu kembali itu banyak sekali hal yang kami bicarakan Bersama dengan rasa bahagia saat betemunya.
Suatu ketika tanpa ia sadari, tidak sengaja ia keceplosan menggunakan Bahasanya. Karena Bahasa daerah nya itu ada yang sama penyebutannya dengan Bahasa daerahku namun berbeda makna, yaitu kata ”sitok”. Awalnya aku pura-pura paham, karena aku pikir kata sitok itu artinya sama dengan Bahasaku yaitu situ/disitu/kesitu. Lama kelamaan percakapan kami menjadi kurang nyambung karna masing-masing dari kami salah memahami maknanya. Akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan percakapan kami yang lagi seru nya itu.
Aku pun berkata kepada temanku itu “ka, yang kite omongkan ni ape? Kok rase-rase tak nyambong ye?”, temanku pun menjawab “iye ra, aku pun jadi bingung”. Lalu kami pun mencari penyebab dari percakapan itu menjadi tidak nyambung. Akhirnya ketemu juga penyebabnya yaitu kata “sitok” yang penyebutannya sama namun berbeda makna. Ternyata kata tersebut dalam Bahasa sambas bermakna kesini atau kemari. Sedangkan dalam Bahasa daerah ku kata tersebut bermakna kesitu atau disitu. Setelah mengetahuinya makna nya kamipun tertawa terbahak-bahak.
Jadi setelah kejadian itu, sedikit demi sedikit aku mulai memahami Bahasa daerah nya tapi hanya Bahasa yang sering ia gunakan saat berbicara denganku. Begitupun sebaliknya, ia mulai memahami Bahasa daerahku karna juga ia sering bergaul dengan anak-anak didaerahku karna berhubung dia juga sekolah di daerahku.
Baik teman-temanku, cukup sekian dulu ya ceritanya. Semoga kejadian itu tidak terulang kembali untukku, juga tidak terjadi dengan kalian yaa:)
Waasalamu’alaikum teman-teman…

Biografi Teman

Assalamu'alaikum,,
Bercerita sedikit tentang teman saya yaa..

Dia ini baru saya kenal pertama kali masuk kuliah. Saya bertemu dengannya saat pra Pbak. Dia yang bernama Merry Rahmawati. Nama panggilannya adalah Merry. Dia adalah teman saya, sejauh ini saya berteman dengannya merasa nyaman karena dia sangat peduli tentang saya. Biarpun saya baru mengenalnya tapi saya merasa untuk menjadi teman yang terbaik.

Merry lahir di Pontianak, 19 mei 2000. Dulu saat SD ia pernah bersekolah di SDN 03 Pontianak, kemudian setelah tamatnya ia melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu di SMPN 21 Pontianak, setelah itu melanjutkan ke SMK mandiri, Dan sekarang ia melanjutkan ke perguruan tinggi di IAIN Pontianak. 

Merry mempunyai hobi membaca dan menulis. Membaca salah satunya yaitu novel, Merry sangat senang membaca novel. Ia juga suka menulis, apalagi disaat dia sedang bersemengat untuk menulis, ape saja yang ia tulis. Merry juga menyukai warna biru dan merah muda. Sampai-sampai pakaian dilemarinya lebih dominan berwarna biru. Merry juga mempunyai makanan kesukaan yaitu bakso. Ia sangat suka dengan bakso. 

Merry sebelum ia melanjutkan ke perguruan tinggi, ia memiliki dua cita-cita yang mulia yaitu guru dan seorang pengusaha. Merry memang mengambil jurusan seorang guru sesuai dengan cita-cita nya yang ingin menjadi seorang guru. Disamping itu ia memiliki keseharian yaitu menjual basreng dan makaroni. Hal ini sesuai dengan cita-cita nya yang kedua yaitu ingin menjadi seorang pengusaha atau pembisnis.