Selasa, 25 Mei 2021
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Selasa, 20 April 2021
Kultur Sekolah
Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia
NIM : 11901131
Deal & Peterson (2011) mengemukakan bahwa, Budaya sekolah yaitu merupakan himpunan dari norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Dalam hal untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan suatu masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi segala kegagalan. Setiap sekolah memiliki beberapa seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf tersebut . Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan yang berurusan dengan budaya dimana bekerja.
Menurut Peterson (2002), suatu budaya dalam sekolah mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu dalam memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa tersebut.
Dalam buku "Pendidikan Islam Mengupas Aspek-aspek Dalam Dunia Pendidikan Islam", yaitu jika dilihat dan ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan ada 3 aspek kultur yang mempengaruhi suatu kultur sekolah sebagai berikut :
1. Kultur sekolah yang positif adalah suatu kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya yaitu kerja sama dalam mencapai suatu prestasi, penghargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar.
2. Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resistensi terhadap perubahan, misalnya siswa yang takut salah, takut bertanya, dan siswa yang jarang berkerja sama dalam memecahkan masalah.
3. Kultur sekolah yang netral adalah yaitu suatu yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Seperti contohnya yaitu arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lainnya. Budaya terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan.
Kultur mencakup berbagai cara berfikir , perilaku, sikap, nilai yang mencerminkan kebaikan dalam wujud fisik maupun abstrak yang diakui oleh suatu kelompok masyarakat. Oleh sebab itu, kultur akan diwariskan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya. Lembaga utama yang didesain untuk memperlancar transmisi kultural antar generasi yaitu sekolah (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Efianiningrum (2007: 52) bahwa kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Jadi, kultur yang ada dimasyarakat tersebut secara alami diwariskan oleh generasi yang ada sekarang kepada generasi yang akan datang. Kultur juga dapat diartikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dimasyarakat, baik itu mencakup sikap, cara berprilaku terhadap orang lain, maupun cara berfikir serta nilai yang baik dalam wujud fisik maupun non-fisik.
Kultur sekolah dalam lingkungan pendidikan sangat berpengaruh oleh kepemimpinan kepala sekolah, karena kualitas atau pandangan dari sekolah tersebut sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, guru, serta peserta didik yang ada disekolah, karena jika sekolah tersebut memiliki budaya displin yang baik serta memiliki prilaku yang baik, maka sekolah tersebut berhasil menjalankan visi misinya untuk mendapatkan lulusan yang baik. Tetapi, jika sekolah tersebut tidak mematuhi aturan, dan hanya tidak menjalankan kultur sekolah dengan baik, maka akan berpengaruh buruk untuk pandangan sekolah tersebut.
Oleh karena itu, kultur sekolah dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai pandangan masyarakat ke sekolah tersebut, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral.
Kultur sekolah juga diharapkan dapat merubah mutu pendidikan yang ada disekolah untuk menjaid yang lebih baik lagi, dan mempunyai ciri ciri sebagai berikut sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Kultur sekolah yang baik dapat menjadikan wadah sehingga dapat memberikan sebuah peluang yang mana agar warga sekolah dan sekolah dapat berfungsi secara optimal sehingga dapat, kultur yang direkomendasikan oleh depdiknas adalah kultur yang berkaotan dengan prestasi/kualitas dan kultur yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Kultur sekolah memiliki peran membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan terlaksananya proses pembelajaran siswa. Kultur sekolah ini meliputi faktor material dan non-material. Faktanya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tidak terlihat. Karenanya, menekankan suatu perbaikan pendidikan yang ada di sekolah pada proses restrukturisasi semata itu, tidak cukup . Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural dapat dilakukan secara seimbang.
Kultur sekolah memiliki peranan dalam menghasilkan produktivitas kerja yang baik pada setiap individu dan unit kerja sekolah. Kultur sekolah dalam lingkungan pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Kepsek (Kepala Sekolah). Contohnya, kepuasan dan ketidakpuasan bawahan dalam bekerja yang berhubungan dengan pola kepemimpinan. Dilaporkan oleh Farrow, Valensi, dan Basa (dalam Mahtja, 1991) dalam jurnal (Roemintoyo, 2013) yang menyatakan bahwa keberadaan Kepala Sekolah dengan pola perilaku serta modal kepemimpinannya sangat mempengaruhi kultur sekolah yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Oleh karenanya, sekolah sebagai suatu institusi pendidikan perlu membangun hubungan yang kompak antar warga sekolah dengan cara yang positif untuk memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan.
Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pada pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku itu sendiri dan bahkan mengubah asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah ini dapat menghadirkan konflik atau masalah dan jika hal ini diatasi dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif. Sekolah perlu menyadari hal ini secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada, seperti halnya kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).
Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat 20 merubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.
Rabu, 14 April 2021
MEDIA PEMBELAJARAN
Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia
NIM : 11901131
Kelas : PAI 4C
Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Heinich dkk (1982) mengemukakan istilah me-dium ini sebagai perantara yang akan mengantarkan informasi antara sumber pesan dan penerima pesan. Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya itu adalah sebagai media komunikasi. Apabila media tersebut membawa informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud pengajaran maka media tersebut disebut media pengajaran.
Media adalah sebagai alat untuk menyampaikan pesan atau informasi belajar dari dari sumber pesan kepada penerima pesan. penggunaan media pembelajaran inilah dapat membantumu dalam keberhasilan belajar. Seperti yang ditegaskan oleh Danim dan Sudarwan (1995:1) bahwa hasil dari penelitian ini sudah banyak sekali membuktikan efektivitas penggunaan media dalam proses belajar mengajar dikelas tersebut, apalagi terutama dalam meningkatkan prestasi siswa. Terbatasnya media dalam proses belajar mengajar ini merupakan salah satu penyebab lemahnya mutu belajar siswa.
Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan dalam proses belajar mengajar dikelas. Hal ini dapat dilihat dan dipahami pada proses belajar yang dialami siswa bertumpu pada berbagai kegiatan yang menambah ilmu dan wawasan untuk bekal hidupnya di masa sekarang dan yang akan datang. Seperti yang dikemukakan oleh Rusyan dan Daryani (1993:3) bahwa salah satu upaya yang harus ditempuh yaitu bagaimana caranya kite menciptakan situasi belajar yang memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar dari pada diri siswa tersebut dengan menggunakan segala sumber belajar dan cara belajar yang lebih efektif dan efisien. Jadi dalam hal ini, media pengajaran merupakan salah satu media yang dapat membantu keefektifan terjadinya proses belajar.
Dalam proses pembelajaran ini, media pengajaran merupakan wadah dan perantara dalam penyaluran pesan dari sumber pesan yaitu seperti guru kepada penerima pesan yaitu siswa (peserta didik). Dilihat dari manfaat nya, seperti yang disebutkan oleh Danim dan Sudarwan (1995:13) manfaat dari media pengajaran terdapat dalam beberapa point yaitu sebagai berikut : (a) meningkatkan mutu pendidikan dilakukan dengan cara kecepatan dalam belajar, (b) memberi kemungkinan pendidikan yang bersifat lebih individual, (c) memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, (d) pengajaran yang dapat dilakukan secara baik dan mantap, (e) meningkatkan terwujudnya kedekatan dalam belajar, dan (f) memberikan penyajian pendidikan yang lebih luas.
Sebagai contoh, sederhananya saja seperti pesawat televisi yang tidak mengandung atau tidak adanya pesan (bahan ajar) berarti belum bisa dikatakan media pembelajaran, hal ini baru bisa dikatakan hanya peralatan (hardware) saja. Akan tetapi, agar dapat disebut sebagai media pembelajaran maka pesawat televisi tersebut harus memiliki informasi, pesan atau bahan ajar yang dapat disampaikan ke penerima pesan itu. Ada pengecualian nya yaitu apabila kita, misalnya menggunakan pesawat televisi sebagai alat peraga untuk menerangkan tentang komponen-komponen yang ada pada pesawat televisi dan juga cara kerjanya. Maka pesawat televisi yang kita gunakan itulah dapat berfungsi sebagai media pembelajaran.
Terkait dengan semakin banyak dan beragamnya media pengajaran, Raharjo (1986:62) mengatakan dalam pemilihan media harusnya memperhatikan beberapa prinsip yaitu sebagai berikut; (a) Kejelasan dalam maksud dan tujuan pemilihan media tersebut, untuk keperluan hiburan, informasi umum, pembelajaran dan sebagainya, (b) Familiaritas media, yaitu yang melibatkan pengetahuan akan sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih, dan (c) Sejumlah media yang dapat diperbandingkan karena adanya beberapa pilihan yang lebih sesuai dengan tujuan pengajaran tersebut.
Banyak dari penelitian yang diadakan mengenai media pembelajaran mana yang paling sesuai untuk tujuan tertentu, dan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa; 1) Tidak setiap media pengajaran dapat dimanfaatkan untuk hal hal yang tidak sesuai atau sembarangan mencapai pengajaran, 2) Semua media pengajaran ini dapat membantu guru dalam hal melaksanakan satu atau beberapa fungsi dalam pengajaran, yaitu seperti mengisahkan, mengontrol/mengecek, memberikan penguatan dan mengadakan evaluasi. Bahkan bisa jadi ada kemungkinan, media itu mengambil alih fungsi, misalnya film yang mengisahkan proses pertumbuhan sel.
Seperti yang dikemukakan oleh Winkel (2005:321) bahwa pemilihan media disamping untuk melihat kesesuiannya dengan tujuan intruksional khusus, materi pelajaran, prosedur didaktis dan bentuk pengelompokan siswa, juga harus mempertimbangkan soal biaya, ketersediaannya peralatan waktu yang dibutuhkan, ketersediaannya aliran listrik, kualitas teknis, ruang kelas, dan kemampuan guru dalam menggunakan media secara tepat.
Implementasi pemilihan media yang berdasarkan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan merupakan hal terpenting yang harus dilakukan oleh guru atau pendidik. Realitas empirik menunjukan bahwa masih banyak guru atau pendidik yang mengajar dengan hanya mengandalkan pada dirinya sebagai satu-satunya media atau sumber belajar saja, selain itu di beberapa daerah-daerah terpencil dan tertinggal bisa kita lihat bahwa penggunaan media hanya mengandalkan papan tulis black board sebagai media pembelajaran satu-satunya itu. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila guru atau pendidik memiliki kemampuan mengenai langkah-langkah dalam pemilihan media berdasarkan kriteria atau ketentuan yang telah di sebutkan, juga adanya perhatian pimpinan terkait dengan pentingnya peningkatan kualitas dan mutu pendidikan, lebih khusus efektifitas pembelajaran melalui penggunaan media. Karena dengan memperhatikan kriteria tersebut, maka tidak ada satu media pun, atau belum tentu media yang tersedia tersebut cocok untuk semua bahan pembelajaran itu, atau pun sesuai dengan sasaran tujuan yang akan dicapai. Apabila guru tidak melakukan langkah-langkah perencanaan dan pemilihan media menunjukan pada sebuah indikasi kurangnya inovasi dan pengembangan media pembelajaran yang akan digunakan. Sehingga guru hanya terfokus pada satu media saja.
Saat ini masih banyak guru-guru yang enggan untuk memanfaatkan media untuk kegiatan pembelajaran. Masih banyak juga kecenderungan bahwa para peserta didik dibiasakan untuk mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru, kemudian dicatat dan dipaksa untuk menghafalkannya. Keadaan seperti inilah yang jelas akan menghasilkan sikap verbalistik, yang akan menyebabkan peserta didik akan menjadi pasif dalam kegiatan belajar mengajar dan itulah yang membuat proses belajar mengajar menjadi kaku dan cepat membosankan. Untuk itu, dalam rangka mengembangkan pembelajaran menjadi menyenangkan serta membuat peserta didik menjadi aktif kembali, penggunaan multimedia pembelajaran akan sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran.
Pentingnya fungsi multimedia didalam kegiatan pembelajaran yaitu pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat visual atau alat peraga saja dalam proses kegiatan belajar mengajar, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada peserta didik, guna untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak, dan mempertinggi daya serap peserta didik tersebut.
Dengan konsep yang semakin mantap, fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar peraga bagi guru yaitu melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik itu sendiri. Dengan demikian pola interaksi edukatif akan lebih bervariasi hingga meliputi 5 pola sebagai berikut yaitu : 1). Sumber yang hanya berupa orang saja (seperti yang kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah kita sekarang), 2). Sumber yang berupa orang yang dibantu oleh atau dengan sumber lain, 3). Sumber berupa orang bersama dengan sumber lain berdasarkan pembagian tanggung jawabnya, 4). Sumber lain tanpa ada sumber berupa orang, dan 5). Kombinasi dari keempat pola tersebut dalam bentuk suatu sistem.
Ada bermacam-macam pendapat tentang fungsi media pembelajaran. Peranan media dalam proses kegiatan belajar mengajar merupakan bagian yang sangat menentukan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Rowntree yaitu bahwa ada enam fungsi media yaitu, 1) membangkitkan motivasi belajar peserta didik, 2) mengulang apa yang telah dipelajari, 3) menyediakan segala stimulus belajar, 4) mengaktifkan respon peserta didik dalam proses belajar mengajar, 5) memberikan umpan balik dengan segera terhadap peserta didik, dan 6) menggalakkan latihan yang serasi.
Dalam konteks pembelajaran yang berlangsung, media juga berfungsi secara efektif tanpa menuntut kehadiran guru. Media juga sering dalam bentuk "kemasan" untuk mencapai tujuan pembelajaran itu. Dalam hal inilah, tujuan telah ditetapkan, petunjuk atau pedoman kerja untuk mencapai segala tujuan yang telah diberikan, bahan-bahan atau material yang telah disusun dengan rapi, dan alat ukur atau evaluasi juga disertakan. Media pembelajaran yang mempunyai syarat situasi seperti itulah dapat berupa modul, paket belajar, kaset dan perangkat lunak komputer yang akan dipakai oleh peserta didik atau peserta pelatihan. Dalam situasi seperti ini, guru atau instruktur dapat berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran.
Media juga memiliki berbagai peranan yang penting dalam aktivitas pembelajaran. Selama ini, pembelajaran mungkin lebih banyak bergantung pada keberadaan guru atau pendidik. Dalam situasi dan kondisi demikian, media tidak banyak digunakan oleh guru atau pendidik atau apabila yang digunakan media hanya sebatas alat bantu pembelajaran.
Pandangan seperti inilah yang mengisyaratkan tidak adanya upaya pemberdayaan dalam proses pembelajaran. Sebaliknya juga bisa saja pembelajaran mungkin tidak memerlukan kehadiran guru. Pembelajaran yang tidak bergantung pada guru, bahkan selalu diarahkan oleh siapa yang merancang media tersebut. Dalam situasi pembelajaran yang berbasis pada guru atau pendidik, penggunaan media pembelajaran secara umum adalah untuk memberikan dukungan suplementer secara langsung kepada guru atau pendidik. Media pembelajaran yang dirancang secara memadai ini dapat meningkatkan dan memajukan proses belajar dan memberikan dukungan pada pembelajaran yang berbasis guru atau pendidik dan tingkat keefektifan media pembelajaran tergantung pada guru atau pendidik itu sendiri.
Media dalam dunia pendidikan pada umumnya dan pembelajaran cara khusus ini telah memberikan kontribusi atau sumbangan besar dalam rangka menyediakan dalam melaksanakan segala pemecahan masalah guna untuk memberi kemungkinan belajar. Pemecahan masalah belajar yang ditawarkan ini yaitu berupa penyediaan sumber belajar, baik itu sengaja dirancang maupun yang dipilih dan dimanfaatkan. Media pembelajaran ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap beberapa struktur organisasi kelembagaan pendidikan baik pada tingkat makro maupun mikro
Dampak ini dapat dirasakan dalam tiga hal yaiti; 1) mengubah dalam pengambilan keputusan, 2) menciptakan pola pembelajaran yang baru, dan 3) memungkinkan adanya bentuk alternatif baru dalam kelembagaan pendidikan tersebut.
Rabu, 27 November 2019
Pengalaman Bahasa
Disini aku akan berbagi cerita dari pengalamanku, yaitu pengalaman Bahasa yang berbeda makna. Aku ini mempunyai banyak teman dari berbagai daerah. Nah salah satu nya itu teman aku yang berasal dari daerah Sambas. Waktu tidak sengaja kami bertemu disuatu tempat, setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Pada saat bertemu kembali itu banyak sekali hal yang kami bicarakan Bersama dengan rasa bahagia saat betemunya.
Suatu ketika tanpa ia sadari, tidak sengaja ia keceplosan menggunakan Bahasanya. Karena Bahasa daerah nya itu ada yang sama penyebutannya dengan Bahasa daerahku namun berbeda makna, yaitu kata ”sitok”. Awalnya aku pura-pura paham, karena aku pikir kata sitok itu artinya sama dengan Bahasaku yaitu situ/disitu/kesitu. Lama kelamaan percakapan kami menjadi kurang nyambung karna masing-masing dari kami salah memahami maknanya. Akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan percakapan kami yang lagi seru nya itu.
Aku pun berkata kepada temanku itu “ka, yang kite omongkan ni ape? Kok rase-rase tak nyambong ye?”, temanku pun menjawab “iye ra, aku pun jadi bingung”. Lalu kami pun mencari penyebab dari percakapan itu menjadi tidak nyambung. Akhirnya ketemu juga penyebabnya yaitu kata “sitok” yang penyebutannya sama namun berbeda makna. Ternyata kata tersebut dalam Bahasa sambas bermakna kesini atau kemari. Sedangkan dalam Bahasa daerah ku kata tersebut bermakna kesitu atau disitu. Setelah mengetahuinya makna nya kamipun tertawa terbahak-bahak.
Jadi setelah kejadian itu, sedikit demi sedikit aku mulai memahami Bahasa daerah nya tapi hanya Bahasa yang sering ia gunakan saat berbicara denganku. Begitupun sebaliknya, ia mulai memahami Bahasa daerahku karna juga ia sering bergaul dengan anak-anak didaerahku karna berhubung dia juga sekolah di daerahku.
Baik teman-temanku, cukup sekian dulu ya ceritanya. Semoga kejadian itu tidak terulang kembali untukku, juga tidak terjadi dengan kalian yaa:)
Waasalamu’alaikum teman-teman…
Biografi Teman
Bercerita sedikit tentang teman saya yaa..
Senin, 14 Oktober 2019
Resume Skripsi
NIM : 11901131
1. Cover/Sampul
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Fokus penelitian
C. Tujuan penelitian
D. Manfaat penelitian
BAB II KAJIAN TEORI
A. Penelitian terdahulu
B. Pengertian pelaksanaan kegiatan
C. Kegiatan ekstrakurikuler
BAB III METODE PENELITIAN
1. Pendekatan penelitian
2. Sumber data
3. Teknik dan alat pengumpul data
4. Teknik analisis data
5. Teknik pemeriksaan keabsahan data
BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
5. Kutipan Teori
1. Wahdah (2013), yaitu memfokuskan beberapa aspek. Yaitu, apa saja strategi yang digunakan dalam pembelajaran tajwid.
2. Tabrani (2010), yang berjudul penerapan metode Qira'atiy dalam pembelajaran Al-Qur'an di TPA sungai ambawang.
3. Subaidi, penerapan metode tilawah di TPA Abdussalam Paril Surabaya, sungai ambawang.
4. Siti aminah (2014), yang berjudul pembelajaran membaca al-qur'an dengan metode qiro'aty pada santri di PONPES al-hidayah sungai ambawang.
5. Muhammad anis alqadri (2014), yang berjudul pelaksanaan ekstrakurikuler baca tulis alquran pada siswa kelas VII MTS.
6. Moh. Hataimi Salaim (2014), yang menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik.
7. Ma'ruf (2012), yang menyampaikan tentang kegiatan-kegiatan peserta didik dalam bidang keterampilan dan seni.
8. Mansur Muslich (2009), menyatakan "penelitian kualitatif" adalah penelitian yang bertujuan mengungkapkan gejala atau fenomena secara nolistik.
9.sugiyono (2007), metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme.
10. Andi prastowo (2011), di dalam KBBI bahwa metode diartikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
6. Daftar Pustaka
1. Nata, abudin. 2001. Sejarah Pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan islam di Indonesia. Jakarta:Grasindo.
2. Subiyanto, arief. 2006. Metode dan teknik penelitian sosial. Yogyakarta: C. V Andi offset.
3. Prastowo, andi. 2011. Memahami metode-metode penelitian. Jogjakarta: ar-ruzz media
4. Ahmad, soenarto. 1988. Pelajaran tajwid praktis dan lengkap. Jakarta: Bintang terang
5. Muslimah, eneng. 2010. Ilmu pendidikan islam. Jakarta
6. Fahrul, razi. 2009. Pembelajaran sejarah kebudayaan islam. Pontianak: Stain pontianak prees
7. Daulay, haidar putra. 2004. Pendidikan islam: dalam sistem pendidikan di Indonesia
8. Daulay, haidar putra. 2001. Historitas dan eksistensi. Yogyakarta : Tiara wacana yogya
9. Basri. 2006. Metodologi penelitian sejarah. Jakarta: Restu agung
10. Alwasilah, chaidar. 2011. Metodologi pembelajaran bahasa arab. Bandung : Remaja rosdakarya.

















