Rabu, 23 Juni 2021

STRATEGI PEMBELAJARAN

 Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : 4C

Mata Kuliah : Magang 1


Startegi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha agar mencapai kemenangan pada suatu pertempuran. Strategi mulanya digunakan pada lingkungan militer, namun istilah strategi digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dalam istilah strategi pembelajaran.

 Menurut Kemp startegi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang wajib dilakukan pendidik dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Menurut J.R David strategi pembelajaran merupakan suatu rencana yang berisi tentang rangkaian-rangkaian yang dibuat guna mencapai tujuan Pendidikan menurut Dick and Gerey, strategi pembelajaran merupakan suatu kelompok materi dan langkah atau tahapan pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar peserta didik.

 Pendapat dari Meodjono, strategi pembelajaran merupakan kegiatan Pendidikan untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem pembelajaran dimana untuk itu pendidik menggunakan langka tertentu. Merujuk dari beberapa pendapat di atas staratgi pembelajaran dapat dimaknai secara sempit dan luas. Secara sempit strategi mempunyai kesamaan dengan metode yang berarti cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Secara luas startegi dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menetapkan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.

 Menurut poerwardaminta, pembelajran merupakan terjemahan dari kata “instructioan” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere” yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksioanal adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pengertian ini lebih mengarah kepada Pendidikan sebagai pelaku dalam perubahan. Muhammad Surya memberikan pengertian pembelajaran merupakan individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pengetian ini lebih menekankan kepada peserta didik sebagai pelaku perubahan.

Jadi, Strategi pembelajaran adalah suatu proses memilih dan merencanakan bagaimana cara yang akan dilakukan oleh seorang guru ketika menyampaikan isi materi pelajaran yang sesuai aktivitas dan kreativitas siswa. Meskipun banyak guru yang secara teoritis sudah memahami tentang strategi pembelajaran tersebut, tetapi ketika dalam proses pelaksanaannya sangat sulit untuk dilakukan dengan optimal, karena pelaksanaan strategi pembelajaran ini sangat tergantung kepada peserta didik, tujuan pembelajaran, isi materi pembelajaran dan sumber serta sarana prasarana sekolah yang mendukung dalam pelaksanaan strategi pembelajaran tersebut.

*Macam-Macam Strategi Dan Metode Pembelajaran

Macam strategi pembelajaran dan metode pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori, yaitu strategi pembelajaran yang lebih menitikberatkan penyampaian isi materi pembelajaran secara verbal dari seorang pengajar kepda sekelompok peserta didik dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai isi materi pembelajaran secara maksimal.

2. Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI), yaitu rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawabannya dari suatu masalah yang ditanyakan.

3. Contextual Teaching Learning (CTL), yaitu strategi pembelajaran yang membantu guru agar mengaitkan isi materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan membantu serta mendorong siswa agar mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan situasi nyatanya dalam kehidupan mereka sehari-hari

4. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah, dalam strategi pembelajaran ini, guru melakukan serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

5. Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial, merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan penemuannya dengan penuh percaya diri.

6. Strategi Pembelajaran Kooperatif /kerja sama Kelompok, yaitu rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

7. Strategi Pembelajaran Afektif, berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan, sebab afektif berhubungan dengan nilai yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa.

8. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir, merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa.

* Komponen-Komponen Strategi Pembelajaran

Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu: kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan. Pertama, Kegiatan pembelajaran pendahuluan yang memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran yang diharapkan dapat menarik minat peserta didik agar bisa memotivasi mereka dalam memahami materi pelajaran yang akan disampaikan. Melalui kegiatan pembelajaran pendahuluan ini, peserta didik akan mudah mengetahui apa yang harus diingat, dipecahkan, dan diinterpretasi serta terbantu untuk memusatkan strategi belajar kearah hasil pembelajaran.

Kedua, penyampaian informasi, dalam hal ini guru harus menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu diberikan kepada peserta didik. Maka dari itu, guru harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Ketiga, Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran, karena proses pembelajaran akan lebih berhasil jika peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani, dkk., 2003: 1.11).


Keempat, yaitu tes, ada dua jenis tes atau penilaian yang biasa dilakukan oleh guru pada umumnya, yaitu pretest dan posttest (Al Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh guru adalah untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah pengetahuan, keterampilan serta sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes ini biasa dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran atau setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pembelajaran (Nurani, dkk., 2003: 1.12)

Kelima, Kegiatan lanjutan atau follow up, secara prinsip memiliki hubungan dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan bertujuan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik, yaitu dengan memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu dan memberikan motivasi dan bimbingan belajar.

Sementara itu, menurut Miarso (2004: 532-534), komponen atau unsur yang sering terdapat dalam strategi pembelajaran adalah tujuan umum pembelajaran, teknik, pengorganisasian kegiatan pembelajaran, peristiwa pembelajaran, urutan belajar, penilaian, pengelolaan kegiatan belajar/kelas, tempat atau latar, dan waktu. Sama halnya dengan Suparman (2005: 167) yang menyatakan bahwa ada empat komponen utama strategi pembelajaran, yaitu Urutan kegiatan pembelajaran, Metode pembelajaran, Media pembelajaran dan Waktu yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.

Jenis-jenis Strategi Pembelajaran a. Model pembelajaran konstruktivisme Konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas peserta didik dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri. Konstruktivisme menganggap bahwa semua peserta didik memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa (gejala) yang terjadi di lingkungan sekitarnya, meskipun gagasan atau pengetahuan ini seringkali naif atau juga miskonsepsi (Khairudin, 2007: 197). Diantara ciri yang dapat ditemukan dalam model pembelajaran konstruktivisme ini adalah peserta didik tidak diindoktrinasi dengan pengetahuan yang disampaikan oleh guru, melainkan mereka menemukan dan mengeksplorasi pengetahuan tersebut dengan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari sendiri. Selain ciri tersebut dalam perspekif konstruktivisme, proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas harus menekankan 4 komponen kunci yaitu: 1) Peserta didik membangun pemahamannya sendiri dari hasil belajarnya bukan karena disampaikan (diajarkan). 2) Pelajaran baru sangat tergantung pada pelajarannya sebelumnya. 3) Belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi sosial. 4) Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran. b. Model Contextual Teaching and Learning (CTL) CTL adalah merupakan model pembelajaran yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata yang berkembang dan terjadi di lingkungan sekitar peserta didik sehingga dia mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pembelajaran kontekstual ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan problema-problema tertentu baik secara individu maupun kelompok. Pembelajaran dengan CTL akan memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan karena proses pembelajaran dilakukan secara alamiah dan kemudian peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung beberapa materi yang telah dipelajarinya. Pembelajaran CTL mendorong peserta didik memahami hakekat, makna dan manfaat belajar sehingga akan memberikan stimulus dan motivasi kepada mereka untuk rajin dan senantiasa belajar. c. Model Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik (Shaleh, 2005: 12). Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dan aspek pembelajaran. Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar peserta didik, yakni melalui belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan ketakutan, tetapi tetap bermakna bagi peserta didik. Dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, peserta didik tidak harus diberi latihan hafalan berulang-ulang (drill), tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. d. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Model PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Istilah Aktif, maksudnya pembelajaran adalah sebuah proses aktif membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan maupun pengalaman oleh peserta didik sendiri. Inovatif, dimaksudkan dalam pembelajaran diharapkan peserta didik dapat memunculkan ide-ide baru atau inovasi-inovasi positif yang dapat mendukung pemahaman peserta didik terhadap suatu pelajaran tertentu. Kreatif, memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses mengembangkan kreatifitas peserta didik, karena pada dasarnya seetiap individu memiliki imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti. Sedangkan istilah Menyenangkan dimaksudkan bahwa proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan. Secara umum, tujuan penerapan model PAIKEM ini adalah agar proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas dapat merangsang aktivitas dan kreativitas belajar peserta didik serta dilaksanakan dengan efektif dan menyenangkan. Model pembelajaran ini merupakan salah satu alternatif solusi untuk menciptakan lulusan (outcome) yang berkualitas, kompetitif dan unggul. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan ini, guru dituntut untuk mandesain materi pembelajaran dengan baik serta mengkombinasikannya dengan strategi pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif peserta didik di kelas, seperti simulasi, game, team quiz, role playing dan sebagainya. Munculnya berbagai strategi tersebut sebenarnya secara substansial memiliki kesamaan tujuan dan bersifat saling melengkapi antara satu strategi dengan lainnya. Meskipun dalam istilah menjelma dengan nama yang berbeda. Tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Guru dapat memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar