Selasa, 29 Juni 2021

KURIKULUM

Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : PAI 4C

Mata Kuliah : Magang 1


Secara Etimologi istilah kurikulum (Curriculum) berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari 2 (dua) kata yaitu curir Pelarian dan Curere tempat terpacu. Istilah kurikulum itu sendiri juga berasal dari dunia olahraga terutama digunakan dalam bidang Atletik Pada zaman romawi kuno di Yunani. Sedangkan di Negara Perancis para ahli mengungkapkan bahwa kurikulum berasal dari kata courier Yang berati lari (to run). Dan Istilah kurikulum sendiri digunakan pertama kali di dunia olahraga yang diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh atletik atau seorang pelari. Istilah kurikulum ini dapat diartikan sebagai tempat mulai nya berlari sampai ke garis finish. Dalam dunia pendidikan kurikulum merupakan suatu rencana atau pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk dapat mencapai tujuan pendidikan. Jadi, dapat diartikan bahwa Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Menurut Dakir kurikulum itu memuat semua program yang dijalankan untuk menunjang proses pembelajaran. Program yang dituangkan tidak terpancang dari segi administrasi saja tetapi menyangkut keseluruhan yang digunakan untuk proses pembelajaran.  

Menurut Suryobroto dalam bukunya “Manajemen pendidikan di Sekolah” (2002: 13), menerangkan, bahwa kurikulum adalah segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh sekolah kepada seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Suryobroto, 2004 : 32). Nampaknya Suryobroto memandang semua sarana prasarana dalam pendidikan yang berguna untuk anak didik merupakan kurikulum. 

 Menurut pendapat Ali Al-Khouly ( tth :103 ) kurikulum di artikan sebagai perangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikandalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.

Menurut Nurgiantoro ( 1988 :2)., bahwa kurikulum, yaitu alat untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Kurikulum dan pendidikan adalah dua hal yang sangat erat kaitannya, tidak dapat dipisahkan satu sama yang lain 

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan di sana dijelaskan, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BSNP, 2008: 6). 

Fungsi Kurikulum :

Sebagai rangkaian rencana demi terwujudnya tujuan pendidikan, tentu kurikulum memiliki beberapa fungsi. Berikut adalah fungsi dari kurikulum.

1. Fungsi Penyesuaian

Kurikulum memiliki sifat mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan yang cenderung dinamis.

2. Fungsi Integrasi

Kurikulum mampu menjadi alat pendidikan yang dapat membentuk pribadi-pribadi yang utuh serta berintegritas di masyarakat.

3. Fungsi Diferensiasi

Kurikulum merupakan alat pendidikan yang memperhatikan pelayanan kepada setiap peserta didik yang mana mereka memiliki perbedaan masing-masing yang patut untuk dihargai.

4. Fungsi Persiapan

Sebagai alat pendidikan, kurikulum berfungsi untuk membantu mempersiapkan peserta didik untuk dapat menuju ke jenjang pendidikan berikutnya, serta siap untuk hidup bermasyarakat apabila peserta didik tersebut tidak melanjutkan pendidikannya.

5. Fungsi Pemilihan

Kurikulum memfasilitasi para peserta didik dengan cara memberi mereka kesempatan untuk memilih program belajar yang sesuai dengan minat serta bakatnya.

6. Fungsi Diagnostik

Kurikulum berfungsi untuk memahami dan mengarahkan potensi dari seorang peserta didik agar dia dapat menggali terus potensinya dan memperbaiki kelemahannya.

Sedangkan untuk peserta didik, kurikulum berfungsi untuk membantu mereka agar dapat memahami materi dan melaksanakan proses pembelajaran dengan mudah, sehingga target pembelajaran dapat tercapai.

Selain itu, peserta didik juga diharapkan mendapatkan pengalaman baru yang bisa saja menjadi bekal di kehidupannya nanti.

Komponen Kurikulum :

Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Para ahli pun berbeda pendapat mengenai komponen kurikulum yakni ada yang mengatakan 5, ada juga yang mengatakan 4.

1. Menurut Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu: (1) komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan prasarana); (4) komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.

2. Menurut Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1) Objective (tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian). 

Walaupun ada beberapa pendapat yang berbeda, tetapi pada intinya komponen kurikulum itu sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan: (4) Evaluasi.

Landasan kurikulum :

Landasan kurikulum menurut Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.

1. Landasan Filosofis

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum, maka dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliranaliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.

2. Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam kontek belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum. 

3. Landasan Sosial-Budaya

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Tidak hanya mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat. Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat.

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang. Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya.Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal. Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.

Manfaat Kurikulum :

Manfaat Kurikulum secara umum adalah sebagai pedoman bagi para pengajar untuk merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Manfaat Kurikulum secara khusus yaitu:

1. Manfaat kurikulum dari sisi guru yaitu: a). menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi hasil kegiatan belajar. b). Memberikan pemahaman kepada guru dalam menjalankan tugas. c). Mendorong untuk lebih kreatif.

2. Manfaat bagi sekolah yaitu: a). Mensukseskan penyelenggaraan pendidikan. b). Memberikan peluang sekolah untuk mengembangkan kurikulum. c).Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

3. Manfaat bagi siswa yaitu: a). Agar lebih bersemangat. b). Agar cara berpikir siswa berkembang. c). Mendorong siswa untuk memecahkan masalah sosial.

Rabu, 23 Juni 2021

STRATEGI PEMBELAJARAN

 Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : 4C

Mata Kuliah : Magang 1


Startegi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha agar mencapai kemenangan pada suatu pertempuran. Strategi mulanya digunakan pada lingkungan militer, namun istilah strategi digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dalam istilah strategi pembelajaran.

 Menurut Kemp startegi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang wajib dilakukan pendidik dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Menurut J.R David strategi pembelajaran merupakan suatu rencana yang berisi tentang rangkaian-rangkaian yang dibuat guna mencapai tujuan Pendidikan menurut Dick and Gerey, strategi pembelajaran merupakan suatu kelompok materi dan langkah atau tahapan pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar peserta didik.

 Pendapat dari Meodjono, strategi pembelajaran merupakan kegiatan Pendidikan untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem pembelajaran dimana untuk itu pendidik menggunakan langka tertentu. Merujuk dari beberapa pendapat di atas staratgi pembelajaran dapat dimaknai secara sempit dan luas. Secara sempit strategi mempunyai kesamaan dengan metode yang berarti cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Secara luas startegi dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menetapkan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.

 Menurut poerwardaminta, pembelajran merupakan terjemahan dari kata “instructioan” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere” yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksioanal adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pengertian ini lebih mengarah kepada Pendidikan sebagai pelaku dalam perubahan. Muhammad Surya memberikan pengertian pembelajaran merupakan individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pengetian ini lebih menekankan kepada peserta didik sebagai pelaku perubahan.

Jadi, Strategi pembelajaran adalah suatu proses memilih dan merencanakan bagaimana cara yang akan dilakukan oleh seorang guru ketika menyampaikan isi materi pelajaran yang sesuai aktivitas dan kreativitas siswa. Meskipun banyak guru yang secara teoritis sudah memahami tentang strategi pembelajaran tersebut, tetapi ketika dalam proses pelaksanaannya sangat sulit untuk dilakukan dengan optimal, karena pelaksanaan strategi pembelajaran ini sangat tergantung kepada peserta didik, tujuan pembelajaran, isi materi pembelajaran dan sumber serta sarana prasarana sekolah yang mendukung dalam pelaksanaan strategi pembelajaran tersebut.

*Macam-Macam Strategi Dan Metode Pembelajaran

Macam strategi pembelajaran dan metode pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori, yaitu strategi pembelajaran yang lebih menitikberatkan penyampaian isi materi pembelajaran secara verbal dari seorang pengajar kepda sekelompok peserta didik dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai isi materi pembelajaran secara maksimal.

2. Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI), yaitu rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawabannya dari suatu masalah yang ditanyakan.

3. Contextual Teaching Learning (CTL), yaitu strategi pembelajaran yang membantu guru agar mengaitkan isi materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan membantu serta mendorong siswa agar mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan situasi nyatanya dalam kehidupan mereka sehari-hari

4. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah, dalam strategi pembelajaran ini, guru melakukan serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

5. Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial, merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan penemuannya dengan penuh percaya diri.

6. Strategi Pembelajaran Kooperatif /kerja sama Kelompok, yaitu rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

7. Strategi Pembelajaran Afektif, berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan, sebab afektif berhubungan dengan nilai yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa.

8. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir, merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa.

* Komponen-Komponen Strategi Pembelajaran

Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu: kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan. Pertama, Kegiatan pembelajaran pendahuluan yang memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran yang diharapkan dapat menarik minat peserta didik agar bisa memotivasi mereka dalam memahami materi pelajaran yang akan disampaikan. Melalui kegiatan pembelajaran pendahuluan ini, peserta didik akan mudah mengetahui apa yang harus diingat, dipecahkan, dan diinterpretasi serta terbantu untuk memusatkan strategi belajar kearah hasil pembelajaran.

Kedua, penyampaian informasi, dalam hal ini guru harus menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu diberikan kepada peserta didik. Maka dari itu, guru harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Ketiga, Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran, karena proses pembelajaran akan lebih berhasil jika peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani, dkk., 2003: 1.11).


Keempat, yaitu tes, ada dua jenis tes atau penilaian yang biasa dilakukan oleh guru pada umumnya, yaitu pretest dan posttest (Al Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh guru adalah untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah pengetahuan, keterampilan serta sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes ini biasa dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran atau setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pembelajaran (Nurani, dkk., 2003: 1.12)

Kelima, Kegiatan lanjutan atau follow up, secara prinsip memiliki hubungan dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan bertujuan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik, yaitu dengan memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu dan memberikan motivasi dan bimbingan belajar.

Sementara itu, menurut Miarso (2004: 532-534), komponen atau unsur yang sering terdapat dalam strategi pembelajaran adalah tujuan umum pembelajaran, teknik, pengorganisasian kegiatan pembelajaran, peristiwa pembelajaran, urutan belajar, penilaian, pengelolaan kegiatan belajar/kelas, tempat atau latar, dan waktu. Sama halnya dengan Suparman (2005: 167) yang menyatakan bahwa ada empat komponen utama strategi pembelajaran, yaitu Urutan kegiatan pembelajaran, Metode pembelajaran, Media pembelajaran dan Waktu yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.

Jenis-jenis Strategi Pembelajaran a. Model pembelajaran konstruktivisme Konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas peserta didik dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri. Konstruktivisme menganggap bahwa semua peserta didik memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa (gejala) yang terjadi di lingkungan sekitarnya, meskipun gagasan atau pengetahuan ini seringkali naif atau juga miskonsepsi (Khairudin, 2007: 197). Diantara ciri yang dapat ditemukan dalam model pembelajaran konstruktivisme ini adalah peserta didik tidak diindoktrinasi dengan pengetahuan yang disampaikan oleh guru, melainkan mereka menemukan dan mengeksplorasi pengetahuan tersebut dengan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari sendiri. Selain ciri tersebut dalam perspekif konstruktivisme, proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas harus menekankan 4 komponen kunci yaitu: 1) Peserta didik membangun pemahamannya sendiri dari hasil belajarnya bukan karena disampaikan (diajarkan). 2) Pelajaran baru sangat tergantung pada pelajarannya sebelumnya. 3) Belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi sosial. 4) Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran. b. Model Contextual Teaching and Learning (CTL) CTL adalah merupakan model pembelajaran yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata yang berkembang dan terjadi di lingkungan sekitar peserta didik sehingga dia mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pembelajaran kontekstual ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan problema-problema tertentu baik secara individu maupun kelompok. Pembelajaran dengan CTL akan memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan karena proses pembelajaran dilakukan secara alamiah dan kemudian peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung beberapa materi yang telah dipelajarinya. Pembelajaran CTL mendorong peserta didik memahami hakekat, makna dan manfaat belajar sehingga akan memberikan stimulus dan motivasi kepada mereka untuk rajin dan senantiasa belajar. c. Model Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik (Shaleh, 2005: 12). Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dan aspek pembelajaran. Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar peserta didik, yakni melalui belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan ketakutan, tetapi tetap bermakna bagi peserta didik. Dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, peserta didik tidak harus diberi latihan hafalan berulang-ulang (drill), tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. d. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Model PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Istilah Aktif, maksudnya pembelajaran adalah sebuah proses aktif membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan maupun pengalaman oleh peserta didik sendiri. Inovatif, dimaksudkan dalam pembelajaran diharapkan peserta didik dapat memunculkan ide-ide baru atau inovasi-inovasi positif yang dapat mendukung pemahaman peserta didik terhadap suatu pelajaran tertentu. Kreatif, memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses mengembangkan kreatifitas peserta didik, karena pada dasarnya seetiap individu memiliki imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti. Sedangkan istilah Menyenangkan dimaksudkan bahwa proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan. Secara umum, tujuan penerapan model PAIKEM ini adalah agar proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas dapat merangsang aktivitas dan kreativitas belajar peserta didik serta dilaksanakan dengan efektif dan menyenangkan. Model pembelajaran ini merupakan salah satu alternatif solusi untuk menciptakan lulusan (outcome) yang berkualitas, kompetitif dan unggul. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan ini, guru dituntut untuk mandesain materi pembelajaran dengan baik serta mengkombinasikannya dengan strategi pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif peserta didik di kelas, seperti simulasi, game, team quiz, role playing dan sebagainya. Munculnya berbagai strategi tersebut sebenarnya secara substansial memiliki kesamaan tujuan dan bersifat saling melengkapi antara satu strategi dengan lainnya. Meskipun dalam istilah menjelma dengan nama yang berbeda. Tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Guru dapat memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan.

Rabu, 16 Juni 2021

MANAJEMEN KELAS

 Nama : Syarifah Azzahra Putri Aulia

NIM : 11901131

Kelas : PAI 4C

Mata Kuliah : Magang 1


Manajemen merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Karena terbawa oleh derasnya arus penambahan kata kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.

Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris management dengan kata kerja tomanage yang berarti mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina atau memimpin. Kata benda management dan manage berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Manajemen memiliki arti pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).

Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan kelas merupakan suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, di dalam kelas tersebut guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas. Kelas dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama.

Manajemen kelas bertujuan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif, agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan kondusif. Dengan begitu, jika peserta didik sudah merasakan kenyamanan dalam belajar, maka tujuan pembelajaran yang ingin disampaikan guru akan mudah untuk tercapai, dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebagai pelaksana pembelajaran memiliki peran untuk mampu mewujudkan kelas yang kondusif untuk proses pembelajaran. Kelas merupakan lingkungan belajar atau kelompok belajar, dimana peserta didik dapat berinteraksi dengan sesama teman, guru dan lingkungan belajar, dimana orang-orang di dalamnya dapat mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Peserta didik akan mengalami kesulitan apabila lingkungan tempat pembelajaran tidak mendukung (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).

Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja Efendi dan Delita Gustrianai, tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut:

1) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

2) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.

3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek siswa dalam belajar.

4) Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.

Manajemen kelas bertujuan untuk meningkatkan efektifitas serta memaksimalkan waktu belajar demi pencapaian tujuan pembelajaran yang kondusif. Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Dalam proses pengelolaan kelas, keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh sebab itu guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapainya dengan kegiatan pengelolaan atau manajemen kelas yang dilakukan.

Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah penyelenggaraan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.Sebelum kita membahas tentang manajemen kelas, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian dari pada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang bersamaan menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama ,jadi guru dan pelajara yang sama . Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan menjadi dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan kedua pandangan dari segi siswa.

Fungsi manajemen adalah sebagai wahana bagi perserta didik untuk mengembangkan diri sebaik mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya. Agar fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa fungsi manajemen kelas, yaitu:

1. Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu.

2. Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.

3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.

4. Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid, dan mendorong motivasi belajar.

5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikulum yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu.

6. Murid-murid akan menghormati guru yang dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapan-harapan mereka.

7. Memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.

8. Membantu guru memiliki perasaan percaya pada diri sendiri dan menjamin atas diri sendiri.

9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang terbaru kepada murid.

Prosedur manajemen kelas dapat dilakukan secara pencegahan (Preventif) maupun penyembuhan (Kuratif). Dikatakan secara preventif adalah jika upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk mengatur siswa, fasilitas yang berupa peralatan atau format belajar mengajar yang tepat dan dapat mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen kelas secara kuratif adalah langkah atau tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu kondisi-kondisi optimal dan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.

1. Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Preventif Meliputi:

a) Peningkatan kesadaran pendidik sebagai guru, seorang pendidik harus menyadari bahwa dirinya memiliki tugas dan fungsi yaitu sebagai fasilitator bagi siswanya yang sedang belajar, serta bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan.

b) Peningkatan kesadaran siswa kesadaran akan kewajibannya dalam proses pendidikan. Keefektifan siswa dalam proses pembelajaran sebenarnya bergantung pada tingkat kesadarannya semakin tinggi pula keefektifannya.

c) Penampilan sikap tulus guru, seorang guru perlu bersikap dan bertindak secara wajar, tulus dan tidak pura-pura terhadap siswa.

d) Pengenalan terhadap tingkah laku siswa, tingkah laku siswa bisa bersifat perseorangan maupun kelompok.

e) Penemuan alternatif manajemen kelas, agar pemilihan alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas.

f)       Pembuatan kontrak sosial, pada dasarnya berupa norma yang dituliskan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak sosial yang baik adalah yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga meminimalkan terjadinya pelanggaran.

2. Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Kuratif meliputi:

a) Identiffikasi masalah, yang pertama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas.

b) Analisis masalah, dari hasil penyelidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab timbulnya tingkah laku siswa yang menyimpang tersebut. Dengan begitu, maka akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya.

c) Penetapan alternatif pemecahan, sebelum menetapkan alternatif tersebut, alangkah lebih baik untuk mengetahui berbagai pendekatan yang sesuai untuk digunakan dalam Manajemen Kelas serta memahami cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.

d) Monitoring, hal ini dilakukan karena akibat dari perlakuan guru bisa saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi tidak menutup kemungkinan juga perlakuan guru tidak berakibat apa-apa terhadap siswa, atau bahkan malah akan menimbulkan tingkah laku yang justru lebih jauh menyimpangnya.

e) Memanfaatkan umpan balik, hasil dari monitoring seharusnya dapat dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan jika suatu saat menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.

Selasa, 01 Juni 2021

MANAJEMEN SEKOLAH

 Manajemen yaitu sebuah seni yang mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi atau bisnis melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan, dan pengawasan sumber daya dengan cara yang efektif dan efisien. Sebagaimana yang telah dikutip oleh Stoner tentang Manajemen secara umum yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Sedangkan sekolah yaitu lembaga yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan belajar-mengajar bagi para pendidik dan peserta didik dalam memberi dan menerima pelajaran sesuai dengan bidangnya. Sekolah juga bertujuan menjadi tempat bagi anak-anak untuk di didik agar bisa menjadi individu yang berguna bagi bangsa dan negara, karena itu sekolah menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam bangsa.

Manajemen sekolah merupakan faktor yang sangat penting dalam menyelenggarakan pendidikan dan oengajaran disekolah, keberhasilannya diukur dari prestasi yang diperoleh, karena itu dalam melaksanakan kepemimpinannya sekolah harus menggunakan suatu sistem, yang artinya dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah terdapat komponen-komponen berkaitan seperti guru, staf TU, orang tua murid, masyarakat, pemerintah, peserta didik, dan lain sebagainya harus berfungsi secara optimal yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja pimpinan. Keberhasilan kualitas pendidikan juga sangat ditentukan oleh kemampuan pengelolaan dalam mengelola organisasi (sekolah), seperti mengelola pembelajaran, siswa, sarana dan prasarana, keuangan, serta hubungan dengan masyarakat. 

Manajemen sekolah yaitu Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal, serta upaya pemberdayaan sekolah dan lingkungannya untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui optimalisasi peran dan fungsi sekolah sesuai dengan visi dan misi, dimana pengelolaan sekolah diberikan Kepada kepala sekolah, serta atas kesiapan seluruh staf sekolah, untuk memanfaatkan semua sumber dan fasilitas belajar yang ada untuk menyelenggarakan pendidikan bagi siswa serta memiliki akuntabilitas atas segala tindakan tersebut” Sebagaimana telah dikutip Menurut James Jr. manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif.

Manajemen sekolah sering kali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan hal itu, terdapat tiga pandangan yang berbeda. Pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). Kedua, manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen). Ketiga, anggapan bahwa manajemen identik dengan administrasi. 

Manajemen sama dengan pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendaya gunakan sumber-sumber baik itu personal maupun material, secara efektif serta efisien berguna menunjang tercapainya tujuan pendidikan disekolah secara optimal.

Terdapat beberapa langkah pelaksanaan manajemen peningkatan mutu sekolah. Sagala (2011:55-56) menjelaskan bahwa setiap sekolah melaksanakan manajemen peningkatan mutu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Merumuskan visi, misi, tujuan dan target peningkatan mutu secara berkelanjutan; 

b. Menyusun perencanaan sekolah mengunakan model perencanaan strategik;

c. Melaksanakan program sekolah sesuai formulasi perencanaan; 

d. Melakukan evaluasi secara terus menerus terhadap program kerja yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas serta kualitas penyelenggaraan program sekolah; 

e. Menyusun laporan kemajuan sekolah dan melaporkannya kepada orang tua siswa kemajuan hasil belajar anak-anaknya disekolah, melaporkan kemajuan sekolah kepada masyarakat dan stakeholders sekolah serta pemerintah daerah;

f. Merumuskan program baru sebagai hasil evaluasi program sekolah dan kelanjutan daei program yang telah dilaksanakan menggunakan perencanaan stategik sekolah. 

Langkah yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan manajemen untuk meningkatkan mutu harus melalui tahapan-tahapan. Tahapan manajemen pun dimulai dari proses merumuskan rencana dan tujuan, penggunaan strategi yang tepat, pelaksanaan dan pelaporan serta ditutup dengan menentukan langkah baru ubtuk meningkatkan mutu yang lebih baik. Langkah ini sangatlah penting untuk mengukur pencapaian tujuan dan kualitas sekolah.

Adapun tujuan Manajemen Sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah : 

1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 

2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. 

3) Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolah. 

4) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai

Jadi, manajemen sekolah memiliki tujuan untuk meningkatkan sumber daya yang ada disekolah baik itu efesiensi, mutu pendidikan, relevansi, pemerataan, serta meningkatkan bagaimana tanggung jawab dari sekolah dan meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah agar semakin baik kedepannya.

Adapun prinsip-prinsip Manajamen Sekolah dibagi menjadi 4 yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia. 

1. Prinsip Ekuifinalitas ialah didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan bersama.

2. Prinsip Desentralisasi (Principle of Decentralization) ialah bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. 

3. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri ialah Ketika sekolah menghadapi permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah

4. Prinsip Inisiatif Manusia ialah peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya. Prinsip ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis (berubah-ubah)

Adapun juga Fungsi guna manajemen adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan: (1) pemilihan ataupun penetapan tujuan organisasi, serta (2) penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, tata cara, sistem, anggaran, serta standard yang diperlukan buat menggapai standard.

2. Pengorganisasian: (1) penentuan sumberdaya serta aktivitas yang diperlukan buat menggapai tujuan, (2) perancangan serta pengembangan organisasi ataupun kelompok kerja buat menggapai tujuan, (3) penugasan tanggungjawab, serta (4) pendelegasian wewenang kepada individu.

3. Penataan personalia: penarikan, pelatihan, pengembangan, penempatan, serta pemberian orientasi para karyawan dalam area kerja yang menguntungkan serta produktif.

4. Pengarahan: memperoleh ataupun membuat para karyawan melaksanakan apa yang di idamkan serta wajib mereka jalani. Guna ini memohon para karyawan buat bergerak mengarah tercapainya tujuan organisasi.

5. Pengawasan: temuan serta pelaksanaan metode serta perlengkapan buat menjamin kalau rencana sudah dilaksanakan cocok dengan yang sudah diresmikan. Pengawasan positif berupaya mengenali apakah tujuan organisasi dicapai dengan efisien serta efektif ataupun tidak. Pengawasan negatif berupaya menjamin aktivitas yang tidak di idamkan tidak terjalin.

Sedangkan sebagaimana menurut Fayol (1925), tentang guna manajemen ialah merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, serta mengatur. Tetapi dikala ini, kelima guna tersebut sudah diringkas jadi 3 ialah:

1. Perencanaan (planning) merupakan memikirkan apa yang hendak dikerjakan dengan sumber yang dipunyai. Perencanaan dicoba buat memastikan tujuan industri secara totalitas serta metode terbaik buat penuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi bermacam rencana alternatif saat sebelum mengambil aksi serta setelah itu memandang apakah rencana yang diseleksi sesuai serta bisa digunakan buat penuhi tujuan industri. Perencanaan ialah proses terutama dari seluruh guna manajemen sebab tanpa perencanaan, fungsi- fungsi yang lain tidak bisa berjalan.

2. Pengorganisasian (organizing) dicoba dengan tujuan membagi sesuatu aktivitas besar jadi kegiatan- kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian memudahkan manajer dalam melaksanakan pengawasan serta memastikan orang yang diperlukan buat melakukan tugas yang sudah dibagi- bagi tersebut. Pengorganisasian bisa dicoba dengan metode memastikan tugas apa yang wajib dikerjakan, siapa yang wajib mengerjakannya, gimana tugas- tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, serta pada tingkatan mana keputusan wajib diambil.

3. Pengarahan (directing) merupakan sesuatu aksi buat mengusahakan supaya seluruh anggota kelompok berupaya buat menggapai target cocok dengan perencanaan manajerial serta usaha.